Harga pakan yang terus meningkat menjadi salah satu tantangan yang sering dihadapi peternak ayam petelur. Di sisi lain, ketika harga telur sedang rendah, biaya pakan yang tinggi dapat membuat keuntungan peternak semakin tertekan.
Kondisi tersebut membuat sebagian peternak mulai mencari alternatif pakan yang lebih ekonomis, termasuk meracik pakan sendiri dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di daerah.
Selain masalah pakan, produksi telur juga dapat mengalami penurunan bahkan ayam berhenti bertelur. Kondisi ini tentu membuat peternak perlu mencari tahu penyebab dan langkah penanganannya.
Melalui seri Mas Nugi Menjawab, HobiTernak merangkum jawaban Mas Nugi, praktisi layer dan pakar deteksi penyakit ayam, terhadap pertanyaan peserta Webinar HobiTernak “Bongkar Strategi Ternak Ayam Petelur” mengenai pakan racikan dan ayam yang mogok bertelur.
Pertanyaan Peserta Webinar
Penanya: Taufiq Agus Susanto — Kab. Kediri
“Ternyata beternak ayam strain petelur sangat rumit dan harus banyak belajar untuk menanganinya, namun harga telur akhir-akhir ini sangat rendah, dan pakan pabrikan harganya cenderung naik.”
Peserta kemudian mengajukan tiga pertanyaan:
- Adakah pakan alternatif yang bisa diracik sendiri dengan mempertimbangkan potensi lokal yang secara kualitas terpenuhi sesuai kebutuhan ayam, tapi lebih murah sehingga potensi profitnya lebih bagus?
- Apa saja komposisi pakan untuk dapat mencukupi kebutuhan nutrisi, protein dan karbo serta mineral dan vitamin untuk ayam layer?
- Bagaimana penanganan teknis ayam yang mogok bertelur dan apa penyebabnya?
Jawaban Mas Nugi
Untuk pakan racikan ayam petelur, Mas Nugi menjelaskan bahwa peternak dapat menggunakan bahan seperti jagung, katul atau dedak, dan konsentrat.
Namun, untuk peternak dengan kapasitas kecil, membuat pakan self mixing tidak selalu mudah karena bahan baku dan formulasi pakan yang tepat dapat lebih sulit diperoleh.
Berikut komposisi yang disampaikan Mas Nugi:
- Jagung: 50%
- Dedak/katul: 15%
- Konsentrat: 35%
- Mineral: 1–2%
Sementara untuk ayam yang tidak bertelur, Mas Nugi menyarankan melakukan seleksi terhadap ayam yang tidak berproduksi, meningkatkan konsumsi pakan dengan menambahkan pakan starter selama sekitar satu minggu, kemudian memberikan vitamin E, selenium, dan egg stimulant selama 5 hari.
Apakah Pakan Ayam Petelur Bisa Diracik Sendiri?
Menurut Mas Nugi, pakan ayam petelur memang dapat diracik dengan mencampurkan beberapa bahan pakan. Salah satu bahan utama yang digunakan adalah jagung, kemudian dedak atau katul dan konsentrat.
Namun, peternak perlu mempertimbangkan kapasitas pemeliharaan sebelum memutuskan menggunakan sistem self mixing.
Untuk peternak dengan kapasitas kecil, mendapatkan bahan baku pakan sekaligus menemukan formulasi yang tepat bisa menjadi tantangan. Karena itu, penggunaan pakan pabrikan dapat menjadi pilihan yang lebih praktis, terutama bagi peternak yang masih belajar mengelola pakan ayam petelur.
Komposisi Pakan Ayam Petelur
Mas Nugi menyampaikan komposisi pakan yang terdiri dari jagung, dedak atau katul, konsentrat, dan mineral.
Jagung 50% menjadi salah satu bahan utama dalam campuran. Sementara dedak atau katul 15% digunakan sebagai sumber serat kasar dan konsentrat 35% menjadi bagian penting dalam campuran pakan.
Selain itu, mineral diberikan sekitar 1–2%.
Peternak yang ingin menggunakan sistem self mixing perlu memperhatikan pencampuran bahan agar komposisinya sesuai dengan formulasi yang digunakan.
Bagaimana Mengatasi Ayam yang Mogok Bertelur?
Ayam yang berhenti atau tidak menghasilkan telur perlu diperhatikan lebih lanjut. Menurut Mas Nugi, langkah yang dapat dilakukan adalah menyeleksi ayam yang tidak bertelur, kemudian meningkatkan konsumsi pakannya.
Salah satu cara yang disampaikan adalah menambahkan pakan starter selama sekitar satu minggu.
Setelah itu, dapat diberikan vitamin E, selenium, dan egg stimulant selama 5 hari.
Langkah tersebut ditujukan untuk membantu menangani ayam yang tidak berproduksi, tetapi peternak tetap perlu memperhatikan kondisi ayam secara keseluruhan.
Menjual Telur dengan Harga yang Lebih Baik
Selain menekan biaya pakan, Mas Nugi juga memberikan saran terkait kondisi ketika harga telur di tingkat pasar sedang rendah.
Menurut beliau, peternak dapat mencoba menjual telur secara eceran ke warung-warung atau bekerja sama dengan rumah makan.
Cara tersebut dapat menjadi alternatif pemasaran karena telur tidak hanya dijual kepada pengepul atau bakul telur.
Kesimpulan
Menurut penjelasan Mas Nugi, pakan ayam petelur dapat diracik menggunakan bahan seperti jagung, dedak atau katul, dan konsentrat. Komposisi yang disampaikan terdiri dari jagung 50%, dedak/katul 15%, konsentrat 35%, serta mineral 1–2%.
Namun, sistem self mixing membutuhkan perhatian terhadap ketersediaan bahan baku dan formulasi pakan, terutama bagi peternak dengan kapasitas kecil.
Untuk ayam yang mogok bertelur, Mas Nugi menyarankan melakukan seleksi ayam yang tidak bertelur, meningkatkan konsumsi pakan dengan tambahan pakan starter selama sekitar satu minggu, kemudian memberikan vitamin E, selenium, dan egg stimulant selama 5 hari.
Di sisi pemasaran, ketika harga telur rendah, peternak juga dapat mencoba menjual telur secara eceran ke warung atau bekerja sama dengan rumah makan sebagai alternatif pemasaran.

Content Production yang menulis sekaligus mengelola konten seputar dunia peternakan. Dengan penyampaian yang sederhana dan mudah dipahami, informasi yang dibagikan ditujukan untuk membantu para pemula yang baru memulai usaha ternak.







