Terbit: 4 Maret 2021 • Update: 16 Juli 2026
Pernahkah Anda bertanya-tanya, apakah ayam bisa bertelur tanpa pejantan?
Pertanyaan ini cukup sering muncul, terutama dari peternak pemula yang baru memulai usaha ternak ayam petelur. Banyak yang mengira ayam betina hanya dapat menghasilkan telur setelah dikawini ayam jantan. Padahal, kenyataannya tidak demikian.
Ayam betina tetap dapat bertelur meskipun dipelihara tanpa ayam pejantan. Namun, telur yang dihasilkan memiliki fungsi yang berbeda dengan telur yang telah dibuahi. Perbedaan inilah yang sering menimbulkan kebingungan di kalangan peternak.
JUAL PULLET AYAM PETELUR
Siap kirim ke seluruh Indonesia, GARANSI HIDUP*
Dalam dunia peternakan sendiri terdapat berbagai jenis ayam produksi, mulai dari ayam petelur, ayam broiler, ayam pejantan, ayam kampung super (Joper), ayam kampung asli, hingga ayam KUB.
Masing-masing memiliki tujuan pemeliharaan yang berbeda, baik sebagai penghasil telur, pedaging, maupun ayam dwiguna.
Lalu bagaimana perusahaan pembibit dapat menghasilkan ribuan hingga jutaan DOC setiap harinya? Apakah seluruh telur tersebut berasal dari perkawinan alami?
Pada artikel ini Anda akan mempelajari:
- Apakah ayam betina bisa bertelur tanpa pejantan.
- Mengapa ayam petelur tetap menghasilkan telur meskipun dipelihara tanpa ayam jantan.
- Perbedaan telur fertil dan infertil.
- Bagaimana proses pembuahan pada ayam terjadi.
- Cara mengetahui apakah telur sudah dibuahi atau belum.
Dengan memahami proses reproduksi ayam, peternak dapat menentukan sistem pemeliharaan yang tepat sesuai tujuan usaha, baik untuk menghasilkan telur konsumsi maupun bibit ayam.
Apakah Ayam Bisa Bertelur Tanpa Pejantan?
Jawabannya bisa.
Ayam betina tetap dapat menghasilkan telur meskipun tidak dipelihara bersama ayam jantan. Hal ini karena proses pembentukan telur merupakan bagian dari siklus reproduksi alami ayam betina dan tidak selalu memerlukan pembuahan.
Selama ayam mendapatkan pakan dengan nutrisi yang cukup, berada dalam kondisi sehat, dan telah memasuki usia produktif, ayam akan tetap bertelur secara rutin meskipun tanpa adanya pejantan di dalam kandang.
Pada umumnya, ayam mulai memasuki masa produksi telur saat berumur sekitar 7–8 bulan. Namun, usia mulai bertelur juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kualitas pakan, kesehatan, kondisi fisik, serta manajemen pemeliharaan yang diterapkan.
Yang perlu dipahami adalah, telur yang dihasilkan tanpa proses perkawinan merupakan telur infertil. Telur jenis ini tetap layak dikonsumsi, tetapi tidak dapat ditetaskan menjadi DOC karena tidak mengandung embrio.
Sebaliknya, apabila tujuan pemeliharaan adalah menghasilkan bibit ayam, maka telur harus berasal dari ayam betina yang telah dibuahi oleh ayam jantan sehingga menghasilkan telur fertil yang dapat ditetaskan.
Kapan Ayam Betina Siap Kawin?
Meskipun ayam dapat bertelur tanpa pejantan, peternak tetap perlu mengetahui kapan ayam betina memasuki masa siap kawin, terutama jika ingin menghasilkan telur tetas.
Beberapa ciri ayam betina yang telah siap kawin antara lain:
- Badan sudah besar dan berisi.
- Mengeluarkan suara khas untuk menarik perhatian pejantan.
- Ayam induk mulai mematuk anaknya sebagai tanda siap memasuki masa reproduksi kembali.
- Bagian bawah kloaka terlihat lebih besar atau mengembang.
- Saat bagian punggung disentuh, ayam akan menundukkan tubuh sebagai tanda siap dikawini.
- Lebih akur dengan ayam betina lainnya.
- Lebih sering mencari makan bersama ayam jantan.
Cara Ayam Kawin untuk Menghasilkan Telur Fertil
Agar menghasilkan telur yang dapat ditetaskan menjadi DOC, ayam betina harus mengalami proses pembuahan oleh ayam jantan. Dalam praktik peternakan, terdapat beberapa metode perkawinan yang umum digunakan.
1. Kawin Alami
Kawin alami merupakan cara yang paling sering terjadi pada ayam yang dipelihara secara umbaran atau semi intensif.
Pada metode ini, ayam jantan akan mengawini ayam betina secara langsung setelah keduanya memasuki masa reproduksi. Saat ayam betina siap kawin, biasanya akan menunjukkan perilaku tertentu sebagai bentuk respons terhadap pejantan.
Karena berlangsung secara alami, proses ini tidak memerlukan campur tangan manusia.
2. Kawin Semi Alami
Kawin semi alami dilakukan ketika ayam betina belum memberikan respons yang baik terhadap pejantan sehingga membutuhkan bantuan peternak.
Caranya, ayam betina dipegang atau diposisikan sedemikian rupa agar ayam jantan lebih mudah melakukan perkawinan. Metode ini umumnya diterapkan pada ayam yang sudah jinak sehingga prosesnya dapat dilakukan dengan aman.
3. Kawin Suntik (Inseminasi Buatan)
Selain kawin alami, peternak skala besar juga banyak menggunakan inseminasi buatan (IB) atau yang sering disebut kawin suntik.
Pada metode ini, sperma dari ayam jantan diambil terlebih dahulu, kemudian dimasukkan ke dalam saluran reproduksi ayam betina menggunakan alat khusus.
Tujuan penggunaan inseminasi buatan antara lain:
- meningkatkan efisiensi proses reproduksi,
- menghasilkan telur fertil dalam jumlah lebih banyak,
- memperoleh produksi DOC yang lebih seragam,
- menghemat waktu dibandingkan perkawinan alami.
Metode ini banyak diterapkan oleh perusahaan pembibitan ayam karena mampu memenuhi kebutuhan bibit dalam jumlah besar dengan kualitas yang lebih konsisten.
Apakah Ayam Petelur Tetap Mengalami Proses Kawin?
Ya, ayam petelur tetap memerlukan proses pembuahan apabila tujuannya menghasilkan telur tetas (fertil).
Namun, pada peternakan pembibitan modern, proses tersebut umumnya dilakukan menggunakan sistem inseminasi buatan agar produksi telur fertil menjadi lebih efisien dan seragam.
Sebaliknya, pada peternakan ayam petelur komersial yang menghasilkan telur konsumsi, ayam betina dipelihara tanpa pejantan karena telur yang dihasilkan memang tidak ditujukan untuk ditetaskan.
Pengaruh Perkawinan terhadap Telur yang Dihasilkan
Proses perkawinan akan menentukan jenis telur yang dihasilkan oleh ayam betina. Secara umum, telur ayam dibedakan menjadi dua jenis, yaitu telur fertil dan telur infertil.
Perbedaan keduanya terletak pada ada atau tidaknya proses pembuahan oleh ayam jantan, bukan pada rasa maupun kualitas gizinya.
1. Telur Fertil
Telur fertil adalah telur yang berasal dari ayam betina yang telah mengalami pembuahan oleh ayam jantan.
Karena telah dibuahi, telur fertil memiliki embrio sehingga dapat ditetaskan menjadi DOC (Day Old Chick) apabila dierami oleh induk ayam atau menggunakan mesin penetas telur.
Jenis telur inilah yang digunakan oleh perusahaan pembibitan maupun peternak yang ingin menghasilkan bibit ayam.
2. Telur Infertil
Telur infertil adalah telur yang dihasilkan ayam betina tanpa melalui proses pembuahan oleh ayam jantan.
Meskipun tidak dapat ditetaskan, telur infertil tetap memiliki rasa, kandungan gizi, dan kualitas yang sama baiknya sebagai telur konsumsi.
Oleh karena itu, peternakan ayam petelur komersial umumnya tidak memelihara ayam jantan karena seluruh produksi telurnya memang ditujukan untuk dikonsumsi, bukan untuk ditetaskan.
Berapa Lama Proses Pembentukan Telur pada Ayam?
Banyak orang mengira ayam dapat menghasilkan telur dalam waktu singkat. Padahal, proses pembentukan satu butir telur membutuhkan waktu sekitar 24–28 jam hingga akhirnya dikeluarkan melalui kloaka.
Secara umum, proses pembentukan telur berlangsung melalui beberapa tahapan berikut:
- Kuning telur terbentuk di ovarium hingga matang, kemudian masuk ke bagian infundibulum. Apabila terjadi perkawinan, proses pembuahan berlangsung pada tahap ini.
- Setelah itu, putih telur (albumen) mulai terbentuk dan berkembang selama kurang lebih 30 menit hingga beberapa jam berikutnya.
- Selanjutnya, telur memasuki bagian isthmus untuk membentuk membran kulit telur sebelum bergerak menuju rahim (uterus).
- Di dalam rahim, cangkang telur terbentuk dan mengeras selama sekitar 18–24 jam.
- Setelah seluruh proses selesai, telur akan dikeluarkan melalui kloaka dan siap dipanen.
Apa yang Menyebabkan Telur Menjadi Infertil?
Meskipun ayam betina mampu bertelur tanpa pejantan, tidak semua telur dapat ditetaskan menjadi bibit. Agar menghasilkan telur fertil, diperlukan proses pembuahan yang baik serta kondisi indukan yang optimal.
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan telur menjadi infertil antara lain:
- Kondisi indukan yang kurang sehat.
- Kebutuhan nutrisi indukan tidak terpenuhi dengan baik.
- Faktor lingkungan yang kurang mendukung proses reproduksi.
- Faktor genetik dari indukan ayam.
Apabila telur yang dihasilkan merupakan telur fertil, maka telur tersebut dapat ditetaskan menggunakan induk ayam maupun mesin penetas. Lama proses penetasan ayam umumnya berlangsung sekitar 21 hari hingga menetas menjadi DOC (Day Old Chick).
JUAL DOC / BIBIT AYAM PETELUR
Siap kirim ke seluruh Indonesia, GARANSI HIDUP*
Cara Mengetahui Telur Fertil dan Telur Infertil
Bagi peternak yang ingin menetaskan telur, penting untuk mengetahui apakah telur yang dimiliki termasuk fertil atau infertil. Berikut beberapa cara yang umum dilakukan.
1. Melakukan Candling (Peneropongan Telur)
Candling atau peneropongan telur merupakan metode yang paling sering digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya embrio di dalam telur.
Caranya cukup sederhana, yaitu dengan menerangi telur menggunakan senter atau alat candling di ruangan yang gelap.
Apabila terlihat adanya jaringan pembuluh darah atau embrio, berarti telur tersebut fertil. Sebaliknya, jika bagian dalam telur tampak kosong, kemungkinan besar telur tersebut infertil.
Proses peneropongan telur untuk mengetahui ada atau tidaknya embrio di dalam telur.
2. Merendam Telur ke Dalam Air
Cara lain yang sering dilakukan peternak adalah memasukkan telur ke dalam gelas atau wadah yang berisi air.
Metode ini biasanya digunakan untuk membantu menilai kualitas telur yang akan ditetaskan. Telur yang masih segar umumnya memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan telur yang sudah disimpan terlalu lama.
Sebagai acuan, telur yang berusia 1–5 hari lebih direkomendasikan sebagai telur tetas dibandingkan telur yang telah disimpan lebih dari 7 hari, karena tingkat keberhasilan penetasannya cenderung menurun.
Merendam telur di dalam air dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu menilai kualitas telur sebelum ditetaskan.

FAQ Seputar Ayam Bertelur Tanpa Pejantan
Ya, bisa. Ayam betina tetap dapat menghasilkan telur meskipun tidak dipelihara bersama ayam jantan. Namun, telur yang dihasilkan merupakan telur infertil sehingga tidak dapat ditetaskan menjadi anak ayam.
Telur fertil merupakan telur yang telah dibuahi oleh ayam jantan sehingga berpotensi ditetaskan. Sementara itu, telur infertil berasal dari ayam betina yang tidak mengalami pembuahan sehingga hanya dapat digunakan sebagai telur konsumsi.
Tidak selalu. Jika tujuan pemeliharaan adalah menghasilkan telur konsumsi, ayam jantan tidak diperlukan. Ayam jantan hanya dibutuhkan apabila peternak ingin menghasilkan telur fertil untuk ditetaskan menjadi DOC.
Telur dapat diperiksa dengan metode candling (peneropongan menggunakan cahaya) atau melalui pengamatan setelah dipecahkan. Pada proses penetasan, candling menjadi cara yang paling umum digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya embrio di dalam telur.
Ingin Memulai Usaha Ternak Ayam Petelur?
Hobi Ternak menyediakan berbagai pilihan bibit ayam petelur berkualitas, ayam siap telur (pullet), hingga kandang baterai galvanis untuk membantu Anda memulai maupun mengembangkan usaha ternak.
Kami juga siap melayani pengiriman ke berbagai wilayah Indonesia melalui jasa kargo hewan terpercaya serta memberikan konsultasi sebelum pembelian agar Anda dapat memilih jenis ayam yang sesuai dengan kebutuhan.
Hubungi Customer Service Hobi Ternak melalui WhatsApp untuk mendapatkan informasi mengenai stok, harga, dan pengiriman bibit ayam petelur.
HUBUNGI KAMI
WhatsApp & Telepon
Klik nomor untuk langsung chat otomatis!

Agus Harianto, S.Pt adalah alumni Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya dan praktisi peternakan berpengalaman.
Bersama team hobiternak.com beliau berkontribusi membagikan panduan dan tips seputar peternakan ayam, bebek, dan hewan ternak lainnya, yang disusun praktis dan mudah dipahami untuk semua kalangan.








